No Result
View All Result
Newsletter
ONTREND Indonesia
No Result
View All Result
ONTREND Indonesia

Kawagoe: ‘Little Edo’ Bangunan Kura-Zukuri 30 Menit dari Tokyo

Redaksi Ontrend by Redaksi Ontrend
May 10, 2026
in Destination, Experience, Travel
0
Share on FacebookShare on Twitter

Kawagoe punya julukan “Little Edo” — dan tidak berlebihan. Terletak hanya 30 menit dari Ikebukuro via Tobu Tojo Line, kota kecil di Saitama ini menyimpan jalan-jalan dengan bangunan kura-zukuri (gudang kayu bergaya era Edo) yang masih berdiri dan berfungsi sebagai toko, kafe, dan restoran. Di antara ratusan bangunan era Meiji dan Edo yang masih ada, ada lonceng tua yang masih berbunyi tiga kali sehari seperti yang dilakukannya 400 tahun lalu. Itu bukan rekonstruksi — itu memang begitu adanya.

Kawagoe adalah alternatif yang lebih tenang dari Asakusa, lebih autentik dari kawasan turis mainstream Tokyo, dan cukup dekat untuk dijadikan setengah hari perjalanan sebelum atau sesudah terbang.


Ichiban-gai: Jalan Gudang Berusia Ratusan Tahun

Ichiban-gai adalah jalan utama Kawagoe yang menampilkan deretan bangunan kura-zukuri — gaya arsitektur gudang dengan dinding tebal dari plester putih dan hitam yang dirancang tahan api pada era Edo. Kebakaran besar 1893 menghancurkan sebagian besar kota, tapi karena ketangguhan kura-zukuri, bangunan yang menggunakan gaya ini selamat.

Hari ini, sekitar 30 bangunan kura-zukuri masih berdiri di sepanjang Ichiban-gai — menjadikan Kawagoe sebagai salah satu konsentrasi arsitektur Edo terbesar yang masih fungsional di luar Kyoto. Bangunan-bangunan ini sekarang digunakan sebagai toko wagashi tradisional, toko keramik, kafe matcha, izakaya, dan toko oleh-oleh. Ini bukan zona konservasi yang steril — ini jalan hidup yang masih berfungsi.


Toki no Kane: Lonceng yang Masih Berbunyi Sejak Era Edo

Toki no Kane adalah menara lonceng kayu setinggi 16 meter yang sudah berdiri di Kawagoe sejak awal abad ke-17. Lonceng ini berbunyi empat kali sehari — pukul 6 pagi, tengah hari, 3 sore, dan 6 sore — dan sudah melakukan ritual yang sama selama lebih dari 400 tahun, bahkan bertahan dari kebakaran besar 1893.

Mendengar lonceng ini berbunyi saat berjalan di antara bangunan-bangunan kura-zukuri adalah salah satu momen paling “terlempar ke masa lalu” yang bisa kamu alami di Jepang tanpa harus pergi ke museum. Tidak ada tiket masuk; lonceng bisa dilihat dari jalan dan didengar dari mana saja di kawasan pusat kota. Ini adalah free experience terbaik di Saitama.


Kashiya Yokocho: Gang Permen yang Menjual Nostalgia

Kashiya Yokocho adalah gang sempit yang dipenuhi toko-toko kecil yang menjual dagangan yang sama sejak akhir era Meiji dan awal Showa: permen tradisional, kembang gula, cracker beras, dan jajanan tua yang sudah tidak ada di toko modern. Vibenya sangat retro — dan itu bukan sesuatu yang dibuat-buat.

Ini adalah salah satu pengalaman paling nostalgic yang bisa kamu temukan di kawasan Tokyo — terasa seperti berjalan ke dalam kenangan masa kecil generasi sebelumnya. Bahkan orang Jepang dari kota besar datang ke sini untuk “nostalgia” terhadap jajanan yang sudah menghilang dari keseharian. Cobalah ningyo-yaki (kue kecil berbentuk wayang bertema Kawagoe) dan imo (ubi ungu) dalam berbagai bentuk.


Ubi Ungu: Kenapa Kawagoe Disebut “Kota Ubi”?

Kawagoe sudah lama dikenal sebagai penghasil ubi jalar (satsuma-imo) terbaik di Jepang Barat — dan sejak era Edo, ubi dari Kawagoe dikirim ke Edo (Tokyo) sebagai komoditas pangan penting. Hari ini, ubi menjadi identitas kuliner kota yang tidak bisa dipisahkan.

Kamu akan menemukan ubi dalam segala bentuk: keripik ubi goreng, es krim ubi, cake ubi, sake berbahan ubi, shochu ubi, dan bahkan ramen dengan kaldu ubi. Toko paling ikonik: Imo-ya Takemura yang sudah berdiri sejak 1832 dan menjual daigakuimo (ubi glazur manis) yang konon belum berubah resepnya hingga sekarang.


Yang Perlu Kamu Tahu

Transportasi: Dari Ikebukuro, naik Tobu Tojo Line Express langsung ke Hon-Kawagoe Station — 30 menit, ¥480 sekali jalan. Ini adalah rute tercepat dan termudah. JR Pass tidak berlaku, tapi harga tiketnya sangat terjangkau.

Dalam kota: Kawagoe sangat kompak — hampir semua atraksi utama dalam radius 1 km dari Hon-Kawagoe Station. Bisa jalan kaki seluruhnya. Sewa sepeda juga tersedia di dekat stasiun untuk menjangkau Kitain dan kawasan lebih jauh.

Waktu terbaik: Weekday untuk suasana yang lebih tenang. Akhir pekan, terutama musim gugur dan musim bunga, bisa lebih ramai. Festival Kawagoe Matsuri pada Oktober (minggu ketiga) adalah salah satu festival float terbesar di Kanto — sangat meriah tapi juga sangat ramai.

Durasi ideal: Setengah hari (3–4 jam) cukup untuk highlight utama. Satu hari penuh untuk eksplorasi menyeluruh termasuk semua kuil, gang permen, dan makan siang.


Jadi, kenapa harus ke sini? Kawagoe membuktikan bahwa Tokyo punya hinterland yang jauh lebih menarik dari yang terlihat di peta wisata standar. Dalam 30 menit dari Ikebukuro, kamu bisa berdiri di jalan yang berasa sama seperti 400 tahun lalu — lonceng masih berbunyi, bangunan masih berdiri, dan permen yang dijual masih sama. Ini bukan tema park era Edo; ini kota yang memilih untuk tidak lupa siapa dirinya.


Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah Kawagoe bisa dikombinasikan dengan Chichibu dalam satu hari?
Bisa tapi padat. Kawagoe di pagi-siang, lalu Chichibu di sore — atau sebaliknya. Keduanya bisa diakses dari Ikebukuro dengan line yang berbeda. Lebih baik pisahkan jika ingin menikmati keduanya secara layak.

Apakah ada pengalaman memakai yukata di Kawagoe?
Beberapa toko menyewakan yukata dan jinbei yang bisa dipakai untuk berjalan-jalan di Ichiban-gai — ini sangat populer di kalangan pengunjung domestik dan juga wisatawan dari Asia. Sangat direkomendasikan untuk pengalaman foto yang lebih immersive.

Seberapa ramai Kawagoe dibanding Asakusa?
Pada hari kerja biasa, Kawagoe jauh lebih tenang dari Asakusa. Kamu bisa berjalan di Ichiban-gai tanpa harus berdesak-desakan — dan itu saja sudah menjadi alasan yang cukup untuk datang.

Tags: jepangkawagoetravel
Previous Post

Mashiko: Desa Keramik yang Melahirkan Gaya Pottery Jepang Modern

Next Post

Mito & Ibaraki: Kairakuen — Taman Plum Terbaik Jepang yang Terlupakan

Redaksi Ontrend

Redaksi Ontrend

Next Post

Mito & Ibaraki: Kairakuen — Taman Plum Terbaik Jepang yang Terlupakan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terbaru

  • Ise, Mie: Kuil Suci Terpenting Shinto yang Tidak Pernah Masuk Itinerary
  • Matsumoto, Nagano: Kastil Hitam Asli Jepang & Kota Seni yang Diam-diam Menawan
  • Shirakawa-go & Gokayama: Desa Jerami UNESCO yang Tersembunyi di Gifu
  • Takayama, Gifu: Kota Sake & Arsitektur Edo di Pegunungan Alpen
  • Kanazawa, Ishikawa: Kyoto-nya Jepang Bagian Barat Tanpa Kerumunan
Facebook Twitter

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Depan

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.