Kalau kamu pernah menyeruput laksa di warung tua di kawasan Katong, kamu pasti tahu rasanya: kuah santan yang tebal, pedas meresap, dengan udang segar dan fishcake yang kenyal — semua berpadu dalam satu mangkuk yang rasanya seperti pelukan hangat. Tapi tahukah kamu, makanan nasional Singapore ini lahir dari pertemuan dua budaya yang, ratusan tahun lalu, tidak ada yang menduga akan menghasilkan sesuatu yang se-iconic ini?
Dari Mana Sebenarnya Laksa Berasal?
Laksa Singapore adalah kreasi asli komunitas Peranakan — keturunan pedagang Tionghoa yang menikah dengan perempuan Melayu lokal sejak abad ke-15. Kata “laksa” sendiri dipercaya berasal dari bahasa Sansekerta laksas yang berarti “banyak” — merujuk pada banyaknya bahan yang digunakan. Perpaduan teknik memasak Tionghoa dengan rempah-rempah Melayu menghasilkan masakan Nyonya (atau Peranakan) yang kaya dan kompleks, dan laksa adalah mahkotanya.
Versi Singapore yang paling terkenal adalah Katong Laksa — dengan mie pendek-pendek yang sudah dipotong, kuah santan kental berwarna oranye keemasan dari rempah seperti cabai, lengkuas, serai, dan daun salam koja (daun kari). Berbeda dari laksa Penang di Malaysia yang berbasis asam, Katong Laksa adalah comfort food dalam bentuknya yang paling murni.
Kenapa Katong Jadi Ibu Kota Laksa Singapore?

Kawasan Katong di East Coast adalah jantung budaya Peranakan Singapore. Di sinilah komunitas Nyonya dan Baba (sebutan untuk perempuan dan laki-laki Peranakan) tinggal dan berkembang sejak akhir abad ke-19. Toko-toko ruko warna-warni di Joo Chiat Road bukan sekadar pemandangan estetik — itu adalah rumah asli komunitas yang menjaga resep laksa turun-temurun.
Dua nama besar yang sering diperdebatkan soal siapa yang paling “original”: 328 Katong Laksa dan Janggut Laksa (Roxy Laksa). Keduanya mengklaim menjadi yang pertama, dan pertengkaran kuliner ini sendiri sudah berlangsung lebih dari setengah abad — sesuatu yang justru menambah charm laksa Singapore.
Di Mana Makan Laksa Terbaik di Singapore?
💚 Murah (SGD 5–8 / Rp 60.000–95.000)
- 328 Katong Laksa — East Coast Road. Antre panjang, worth it banget. Ikonik.
- Janggut Laksa — Queensway Shopping Centre. Versi asli yang lebih “old-school.”
- Sungei Road Laksa — Bersejarah, hampir 80 tahun. Pakai arang, bukan kompor gas.
💛 Sedang (SGD 12–18 / Rp 140.000–215.000)
- Spize — Berbagai cabang. Modern, AC, cocok buat family lunch.
- Killiney Kopitiam — Selain kaya toast legendaris, laksa-nya underrated.
❤️ Mahal/Fine Dining (SGD 25–45 / Rp 300.000–540.000)
- National Kitchen by Violet Oon — Di dalam National Gallery Singapore. Laksa Peranakan fine-dining yang paling otentik dengan plating cantik.
- Candlenut — Restaurant Peranakan berbintang Michelin. Laksa-nya adalah reinterpretasi modern yang menakjubkan.
Apa yang Membuat Laksa Singapore Berbeda dari Laksa Lain?
Laksa hadir dalam banyak versi di Asia Tenggara — Penang Assam Laksa (asam, ikan kembung), Sarawak Laksa (lebih ringan, dengan sambal belacan), Curry Laksa Malaysia (mirip Singapore tapi berbeda rempah). Yang membedakan Singapore Laksa adalah keseimbangan sempurna antara santan yang creamy dengan heat dari cabai, ditambah penggunaan hae ko (udang pasta fermentasi) yang memberi kedalaman rasa umami yang tidak bisa ditiru sembarangan.
Selain itu, satu hal unik Katong Laksa: mie-nya sengaja dipotong pendek supaya bisa dimakan pakai sendok saja, tanpa sumpit. Konon ini hasil adaptasi ibu-ibu Nyonya agar anak-anak mereka bisa makan dengan lebih mudah.
Penasaran dengan kuliner ikonik Singapore lainnya? Baca juga: Hainanese Chicken Rice: Makanan Nasional Singapore yang Lahir dari Pulau Kecil di China dan Chili Crab Singapore: Dari Resep Iseng Ibu Rumah Tangga hingga Makanan Paling Ikonik di Asia.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa perbedaan Laksa Singapore dan Laksa Penang?
Laksa Singapore (Katong Laksa) berbasis kuah santan yang kaya dan gurih, sementara Penang Assam Laksa berbasis ikan dan asam jawa — rasanya sangat asam dan segar. Keduanya lezat tapi karakternya benar-benar berbeda.
Apakah laksa Singapore halal?
Beberapa warung menjual versi halal (tanpa babi), termasuk beberapa outlet di hawker centre. Pastikan cek sertifikasi halal sebelum memesan karena tidak semua warung laksa bersertifikat.
Berapa harga laksa di Singapore?
Harga laksa di hawker centre berkisar SGD 5–8 (sekitar Rp 60.000–95.000), sementara di restoran fine dining seperti Candlenut bisa mencapai SGD 30–40 per porsi.
Comments 3